ga('set', 'userId', 'USER_ID'); // Set the user ID using signed-in user_id.

Ternyata Penyebaran Kristen DI Tanah Batak Tumbuh Pesat Karena Wabah Kolera

fortuner.id kristenisasi tanah batak karena wabah korona

Mulai terjadi Kristenisasi di Tanah Batak (Sumatera Utara) berkat wabah kolera yang menghentikan penyebaran Islam dari kaum Padri sekaligus menarik perhatian para misionaris Inggris. Sebelum saya menjelaskan tentang wabah Kolera di Tanah Batak, maka terlebih dahulu saya sedikit jelaskan apa itu kolera. Kolera adalah penyakit menular yang menyebabkan diare berair akut dan dapat menyebabkan dehidrasi dan bahkan kematian jika tidak segera ditangani. Penyakit tersebut disebabkan oleh makanan dan minuman yang terkotaminasi oleh bakteri yang disebut Vibrium cholerae. Kolera biasanya ditemui di tempat-tempat dengan sanitasi yang buruk.

Waktunya kita fokus ke sejarah kolera di Indonesia. Wabah kolera yang ganas secara misterius memakan ribuan jiwa masyarakat Tanah Batak. Masyarakat Batak di sana menyebut wabah tersebut dengan nama Begu Attuk. Kata Begu sendiri artinya hantu sedangkan Attuk artinya memukul, jadi arti harfiahnya adalah hantu yang memukul secara terus-menerus. Maksud dari memukul-mukul merujuk pada gejala penderita kolera, yaitu merasakan nyeri di perut yang terasa seperti dipukul beberapa kali. Gejala lainnya adalah mengalami buang air besar hebat dan muntah-muntah. Menurut J.C. Vergouwen, ahli hukum adat dari Belanda, Begu Attuk merupakan sebutan orang-orang Batak untuk penyakit kolera.

Terjadinya wabah kolera di Tanah Batak adalah buntut dari penaklukan kaum Padri Minangkabau. Pada tahun 1818, kaum Padri yang dikomandoi Tuanku Lelo menyerbu Tapanuli dengan salah satunya misinya dalam menyebarkan Islam. Penyerbuan tersebut menyebabkan nyawa 200 ribu orang Batak melayang. Betapa banyak mayat manusia yang dibuang pasukan Padri langsung ke Sungai Batangtoru. Padahal sungai itu sendiri adalah induk dari berbagai anak sungai dan menjadi sumber air bagi penduduk di Pahae dan Silindung. Akibat dari banyak mayat yang dibuang, Sungai Batangtoru malah menjadi sumber penyakit. Menurut Mangaraja O.P. Siregar, para tentara Padri mengurung kampung-kampung yang terjangkit penyakit menular itu. Dari 800 ribu penduduk Batak yang meliputi Pahae, Silindung, Humbang, dan Toba, hanya 20 ribu saja yang tersisa. Pahae menjadi daerah terparah dengan populasinya berkurang 90%. Wabah kolera yang menyebar pada kenyataannya jauh lebih mengerikan daripada serangan pasukan Padri. Tidak hanya menulari orang Batak saja, penyakit Begu Attuk pun juga mengincar ke dalam lingkup balatentara Padri. Akibatnya, pasukan Padri tidak leluasa lagi menghadapi serangan wabah yang mengancam mereka. Bahkan penyakit tersebut membuat laju pasukan Padri yang hendak menyerbu Tapanuli Utara terhenti. Pada tahun 1820, pasukan Padri akhirnya mundur dan kembali ke Minangkabau.

Sedari pembumihangusan tentara Padri atas Tanah Batak, penyakit kolera kian mewabah akibat banyak mayat bergelimpangan yang tidak sempat dikuburkan dan dibuang begitu saja ke sungai. Peristiwa tersebut menarik perhatian Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris di Asia. Pada tahun 1823 Raffles mengadakan rapat terbatas mengenai pemetaan kawasan, di mana Aceh dan Minangkabau adalah kawasan beragama Islam sedangkan Tanah Batak-Tapanuli menjadi kawasan beragama Kristen. Dia begitu semangat mendorong misi penginjilan ke kalangan orang Batak. Menurut Raffles, wilayah Tapanuli harus segera di-Kristen-kan. Apalagi wilayah tersebut sudah ditinggalkan pasukan Padri. Seruan Raffels disambut positif dengan mengirimkan tiga misionaris dari Baptist Mission Society of England, dan salah satunya adalah seorang pendeta bernama Nathaniel Ward. Ward sendiri merupakan ahli dalam bidang kesehatan. Dia dipilih guna menyelidiki wabah kolera yang menyerang Silindung dan Toba. Ward tidaklah sendirian, karena dia datang bersama dua pendeta lainnya; Richard Burton seorang linguis dan Pendeta Evans seorang guru. Burton bertugas dalam menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak, sedangkan Evans bertugas dalam mendirikan sekolah-sekolah Kristen di Tapanuli.

Penyakit kolera yang berjangkit di Tanah Batak justru berhasil menggagalkan penyebaran Islam di Tanah Batak dan membuka celah awal dari penyebaran Kristen. Begitulah salah satu bagian sejarah Indonesia yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Artikel ini terakhir diupdate padaApril 13, 2020 @ 10:31 am

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: