Angka kelahiran Jepang tahun ini menjadi yang terendah sejak pertama kali sensus dilakukan pada 1899.

Menurut laporan Japan Today, yang dikutip pada 22 Desember 2018, tahun ini kelahiran di Jepang sekitar 921 ribu, turun 25 ribu pada tahun sebelumnya, berdasarkan angka Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesehatan Jepang.

Sementara angka kematian berkisar 1,37 juta, angka kematian tertinggi pasca-Perang Dunia II. Ini membuat populasi Jepang semakin menyusut 448 ribu dan menjadi penyusutan populasi terbesar.

Selisih kematian dan kelahiran mempersulit pemerintah untuk menambah indikator tingkat kesuburan sampai 1,8 pada akhir fiskal 2025.

Total tingkat kesuburan adalah ukuran dari rata-rata jumlah anak yang diharapkan dilahirkan dari satu perempuan, disesuaikan dengan profil usia populasi perempuan dan tingkat kesuburan spesifik usia. Indikator tingkat kesuburan dilaporkan 1,43 pada 2017 dan 1,44 pada 2016.

Perdana Menteri Shinzo Abe telah berjanji untuk menekan penurunan populasi dengan meningkatkan kesejahteraan anak dan pendidikan.

Puncak penurunan populasi Jepang dimulai pada 2008. Menurut laporan Japan Times, total populasi pada 2017 sekitar 126,7 juta jiwa, sejak 2010 Jepang kehilangan 1,7 juta jiwa.

Menurut Population projection for Japan: 2016 to 2065, sebuah riset yang dilakukan oleh National Institute of Population and Social Security Research, populasi Jepang pada 2065 diprediksi hanya 88,1 juta jiwa, hampir dua per tiga dari jumlah populasi saat ini.

Source: Tempo