Sekolah dasar di Jepang turunkan hanya 35 siswa perkelas

fortuner.id

Wabah epidemic Wuhan coronavirus covid-19 memang telah merusak lingkungan hidup pelajar anak yang lazimnya bersekolah dengan tatap muka. Negeri Jepang melihat pentingnya sekolah tatap muka dengan tetap menyesuaikan dengan keadaan dan keamanan dalam mengurangi resiko penularan.

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dan Menteri Pendidikan Jepang Koichi Hagiuda pada Kamis sepakat untuk mengurangi jumlah maksimum siswa per kelas di sekolah dasar negeri menjadi 35 pada tahun fiskal 2025 dari 40 saat ini.

Kesepakatan tersebut dicapai selama negosiasi mereka tentang permintaan pendanaan terkait di bawah rancangan anggaran pemerintah untuk fiskal 2021, yang dimulai pada bulan April.

Kementerian Pendidikan akan mengajukan rancangan undang-undang untuk revisi undang-undang yang diperlukan untuk sesi biasa Diet tahun depan, yang akan diadakan mulai Januari.

Pemerintah bertujuan untuk mendapatkan cukup guru untuk menangani kelas-kelas yang lebih kecil selama lima tahun mulai April 2021. Pengurangan ukuran kelas akan diterapkan secara bertahap, mulai dari kelas yang lebih rendah.

Jumlah maksimum anak sekolah dasar yang saat ini diperbolehkan dalam satu kelas adalah 40, kecuali untuk kelas kelas satu, yang jumlahnya dikurangi menjadi 35 pada tahun anggaran 2011.

Langkah yang direncanakan akan menjadi pengurangan ukuran kelas sekolah dasar skala terbesar dalam waktu sekitar 40 tahun.

Kementerian pendidikan mengusulkan kelas-kelas yang lebih kecil dalam permintaan anggaran fiskal 2021 untuk mengurangi risiko virus corona dan mempermudah memberikan pelajaran menggunakan komputer. Anggota Asosiasi Gubernur Nasional juga mencari jumlah siswa per kelas yang lebih kecil.

Untuk sekolah menengah pertama negeri, kementerian juga menyerukan pengurangan jumlah maksimum siswa per kelas menjadi 30 dari 40 saat ini.

Namun Kementerian Keuangan enggan melanjutkan rencana itu karena kekhawatiran soal biaya personel. Kelas yang lebih kecil “akan berdampak kecil, jika ada, pada kinerja akademis anak-anak,” kata kementerian itu.


Sumber:

Japantimes

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: