Masuk Toko di Perancis Punya Muka Indonesia Disepelekan & Diremehkan

fortuner.id

Sebenarnya saya tidak berkeberatan apabila ada pegawai toko tidak menganggap saya atau meremehkan saya apabila saya masuk ke toko yang ia jaga; toh saya juga tidak bekewajiban untuk membeli barang yang ada di toko itu, bukan? Tetapi ada satu pengalaman diremehkan yang sangat tidak mengenakkan yang saya alami: diremehkan di toko selai di dekat Louvre di Paris.

Akhir musim panas 2019 lalu, saya bersama pacar saya mengunjungi Paris untuk traveling beberapa hari. Perlu diketahui, pacar saya orang Belgia dan dia blend-in perfectly dengan orang-orang di Paris karena dia bisa bahasa Perancis dan pembawaan dia elegan sekali. Suatu hari setelah sarapan, kami berdua menyusuri pusat kota Paris dan karena masih cukup pagi, kami memasuki beberapa toko yang kita lalui; salah satu toko tersebut adalah toko yang menjual berbagai macam selai home-made. Jujur, saya tertarik sekali untuk membeli karena saya sudah mempertimbangkan untuk membeli oleh-oleh dari Paris.

Setelah saya dan pacar saya masuk ke toko selai tersebut, kami disambut oleh si penjaga toko, seorang wanita muda umur 25-an menurut saya; diawal dia ramah sekali, dan tentu saja dia menjelaskan seluk-beluk toko tersebut dan promosi ke pacar saya dalam bahasa Perancis. Sebenarnya saya menangkap isi pembicaraan mereka karena saya bisa bahasa Perancis pasif, tapi pacar saya (how wonderful she is) dengan sabar tetap menerjemahkan pembiacaraan dia dan si penjaga toko kepada saya dalam bahasa Inggris.

Si penjaga toko kemudian mempersilahkan pacar saya untuk mencoba beberapa selai di etalase yang memang sudah terbuka, dan pacar saya membuka satu botol selai untuk dia coba; sambil mengambil sedikit selai dari botol, pacar saya menjelaskan kepada saya (dalam bahasa Inggris) bahwa saya dipersilahkan untuk juga mencicipi selai yang ada. Tapi saya langsung sontak kaget saat si penjaga toko tiba-tiba mengeluarkan nada ketus kepada saya dengan sedikit nada tinggi, “NO DOUBLE DIPPING!!”

Saya kaget sekali, dan pacar saya raut muka nya menjadi tidak nyaman, padahal sampai beberapa saat lalu, dia senang sekali ada di toko selai itu. Saya hanya mengambil seujung sendok dari selai yang ada, dan sendok itu langsung kami buang dan pacar saya langsung menarik tangan saya keluar dari toko itu sambil pamit pergi ke si penjaga toko, “au revoir”

Saya kemudian tanya ke pacar saya, ‘apakah perlakuan seperti itu normal disini?’ dan dia hanya bilang saja bahwa dia kecewa dengan pengalaman buruk itu makanya dia langsung ngeloyor pergi. Saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri, apakah ini karena saya bukan orang kulit putih? Apakah karena saya terlihat Asia, saya tidak tahu basic manners?

Tetapi beberapa bulan berselang, disuatu kesempatan saya membahas masalah ini dengan salah satu teman saya yang juga warga negara Perancis, tetapi dia bukan dari Paris. Dia bilang, ‘well, this is the reason why people from France generally hate Parisians.’

Menurut saya, pengalaman yang paling bagus dari kunjungan saya di Paris adalah makanannya. Patisseries, croissants, canard magraite dan masih banyak lagi, tidak ada tandingannya di Perancis; bahkan roti-roti seperti pain au chocolat di boulangerie kecil di Paris rasanya enak sekali!

SOURCE: Turin Airlangga

Artikel ini terakhir diupdate padaJuni 23, 2020 @ 9:13 am

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: