National University of Singapore menangani skandal pelecehan seksual dikampus

National University of Singapore (NUS) merupakan universitas terbaik Asia dan menempati peringkat pertama universitas terbaik di Singapura dan Asia Pasifik, serta meraih posisi ke-22 pada peringkat universitas versi THE tahun 2018. Berdasarkan peringkat QS 2019, NUS menempati posisi 11 terbaik dunia. Namun peringkat universitas yang tinggi, tidak pernah lepas dari sisi negatifnya juga.

National University of Singapore (NUS) telah memberhentikan seorang profesor bule ilmu politik kelahiran Amerika Serikat karena melakukan pelecehan seksual terhadap seorang mahasiswa, katanya dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (1 Desember).

Keluhan anonim mengenai Profesor Theodore Geoffrey Hopf, seorang Profesor Ketua Rektor di Departemen Ilmu Politik di Fakultas Seni dan Ilmu Sosial, pertama kali dikirim ke universitas pada bulan Agustus tahun ini.

NUS kemudian mulai menyelidiki pengaduan mahasiswinya tersebut. Prof Hopf diberi Perintah Tanpa Kontak pada bulan berikutnya, yang melarangnya menjangkau semua siswa NUS. Dia kemudian diskors dan diperintahkan untuk tinggal di luar kampus selama penyelidikan.

National University of Singapore merupakan universitas elite dimana banyak orang kaya berat keturunan Indonesia yang bersekolah dengan instan disini dari anak owner dari Maybank grup, Lippo grup, Salim group dan lainnya. Beberapa tahun yang lalu juga, salah satu keluarga terkaya di Indonesia menyumbangkan uang kepada universitas Singapura ini. Salah satunya yang paling besar adalah Gedung kampus ekonomi yang bernama The Mochtar Riady Building, dinamai sesuai nama pendiri dan ketua Grup Lippo, sebagai pengakuan atas kontribusinya sebesar $ 21 juta untuk sekolah bisnis di national University of Singapore ini.

Gedung baru 16.500 meter persegi menelan biaya $ 65 juta untuk membangun dan akan menampung staf fakultas utama sekolah bisnis, dengan fasilitas yang lebih baru juga tersedia untuk siswa siswi NUS.

Pada 7 Oktober, NUS menunjuk Komite Penyelidikan. Ini mewawancarai siswa pada 21 Oktober di hadapan petugas perawatan dari Unit Perawatan Korban NUS.

Prof Hopf diwawancarai pada 13 November, setelah dia kembali dari cuti medis. Menurut pernyataan NUS, profesor itu perlu mencari pengobatan untuk kondisi medis yang serius.

Pada tanggal 18 November, di akhir penyelidikannya, komite menyerahkan temuannya kepada NUS, yang menyatakan bahwa Prof Hopf “telah gagal bertindak dengan sopan, hormat, dan sopan seperti yang diharapkan dari seorang staf Universitas” dan “telah melakukan pelecehan seksual. siswa dalam bentuk fisik, verbal dan tertulis ”.

“Tindakannya merupakan pelanggaran serius terhadap Kode Etik Staf NUS,” tambah pernyataan universitas.

Laporan polisi tentang insiden itu dibuat pada 27 November, setelah NUS memberi tahu siswa tersebut bahwa ini akan dilakukan sesuai dengan kewajiban hukumnya. Mahasiswa telah diberikan, dan akan terus menerima, perhatian, dan dukungan dari universitas.

Mahasiswa, yang jenis kelaminnya tidak diungkapkan dalam pernyataan itu, mengatakan dalam pengaduan bahwa pada bulan Agustus, pada pertemuan antara mahasiswa dan profesor di kampus, Prof Hopf mengonsumsi alkohol dengan mahasiswa dan “membuat pernyataan ofensif tentang bagian-bagian tertentu dari anatomi siswa ”.

Pada pertemuan yang sama, Prof Hopf menarik siswa itu kepadanya dua kali, meskipun siswa tersebut menolaknya dan menyuruhnya untuk berhenti.

Mahasiswa tersebut juga mengatakan, pada Oktober 2018 lalu, Prof Hopf sempat mengirimkan pesan teks seks.

Prof Hopf, 61, sebelumnya mengajar di Universitas Negeri Ohio, Universitas Ohio dan Universitas Michigan di Amerika Serikat.

Ini adalah kedua kalinya dalam kurun waktu dua bulan seorang akademisi dari NUS dipecat karena melakukan pelecehan seksual. Hampir tiap tahun pula selalu bermunculan kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi yang berkuliah di kampus terbesar di Singapura ini.

Pada 18 Oktober, Dr Jeremy Fernando, seorang rekan di Tembusu College, dipecat oleh NUS setelah menyelidiki tuduhan bahwa dia terlibat dalam pelecehan seksual yang melibatkan dua mahasiswi. Laporan polisi juga diajukan terhadapnya.


Sumber:

theindependent.sg/another-nus-academic-sacked-for-sexual-misconduct-towards-student/

Artikel ini terakhir diupdate padaDesember 27, 2019 @ 7:49 am

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: