Mahasiswa ITB Meninggal Usai Membuat Skripsi

Kisah seorang mahasiswa tumbang dan akhirnya meninggal dunia setelah sebelumnya memaksakan diri mengerjakan skripsi hingga 7 hari 7 malam viral di media sosial.  Cerita ini dibagikan sendiri olehnya di Twitter sebelum meninggal. Ia mengawali ceritanya dengan memberi keterangan kalau sempat tujuh hari berturut-turut tidak tidur. Aktivitas itu ia lakukan untuk menyelesaikan tugas skripsinya. Akibatnya kondisi kesehatan Jehuda Christ Wahyu menurun karena terlalu lelah.

THE-QS, survei peringkat Universitas yang berbasis di Inggris, peringkat ITB ke-80 di bidang Teknik dan TI di dunia, satu-satunya universitas di Indonesia dalam 100 teratas di bidangnya. Peringkat pertama di bidang itu adalah MIT. Sayang sekali kalau mahasiswa tersebut yang meniggal dunia  ternyata hanya berkuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Alumni, dan Komunikasi, Miming Miharja mengakui sosok di media sosial tersebut mahasiswanya. Almarhum merupakan mahasiswa jurusan Rekayasa Kehutanan, Fakulas Sekolah Ilmu dan Teknil Hayati ITB.

“Betul (almarhum) mahasiswa Rekayasa Kehutanan (Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati) ITB,” kata Miming saat dihubungi via telepon genggam, Jumat (29/11/2019).

Ia menuturkan berdasarkan keterangan orang tuanya, mahasiswa tersebut saat itu tengah menderita penyakit. Di sisi lain, ia harus menyelesaikan skripsinya di tengah melawan penyakit yang bersarang di tubuhnya.

“Sebetulnya keadaan tidak dikehendaki saja memang almarhum sakit. Kebetulan dia punya penyakit itu, kondisinya melemah kebetulan fase tugas akhir juga. Menang rata-rata menuju tugas akhir agak berat bebannya,” jelas dia.

Menurutnya almarhum lulus tepat waktu dengan nilai yang cukup baik. Hanya saja, almarhum ingin mengejar lulus di bulan tertentu sehingga memaksakan mengerjakan skripsi dengan kondisi badan tengah sakit.

“Lulusnya tepat waktu. Biasanya kalau menjelang wisuda, suka daftar ‘Pak saya mau wisudanya bulan Oktober’. Sebetulnya secara umum baik-baik saja. Cuma mungkin ada target dari almarhum sendiri, saya mau bulan tertentu, jadi dikejar targetnya,” ucap dia.

Dia mengatakan almarhum sebelum meninggal sudah dinyatakan lulus hanya tinggal wisuda. Namun, takdir berkata lain, almarhum terpaksa harus dirawat di rumah sakit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

“Sudah siap diwisuda. Jadi saat wisuda almarhum keburu sakit, jadi dirawat gak sampai wisuda. Tapi sudah sarjana, sudah selesai semuanya,” ujar Miming.

Berita meninggalnya mahasiswa usai 7 hari 7 malam selesaikan skripsi baru-baru saja viral tentang kisah tragis yang dialami oleh mahasiswa bernama Jehuda Christ Wahyu. Diduga karena tujuh hari dan tujuh malam menyelesaikan skripsi, ia mengidap penyakit komplikasi dan berakhir meninggal dunia.

Setelah melakukan serangkaian tes di rumah sakit, beberapa dugaan penyakit muncul. Mulai dari tipes, darah rendah infeksi kronis, sakit ginjal, TBC, DBD sampai kelenjar thyroid. Namun kelima dugaan itu semua tidak terbukti. Hingga akhirnya dugaan kuat dokter adalah mahasiswa ITB ini mengidap anemia.

“Iya kamu anemia, tapi zat besi mu banyak berarti kamu ada sesuatu infeksi kronis, tapi gak tau apa,” tulisnya menirukan omongan dokter, seperti brilio.net lansir dari cuitannya pada Kamis (28/11).

Meski demikian, pria ini sempat mengesampingkan diagnosa dokter tersebut. Sebab waktu itu ia merasa tidak demam dan badannya baik-baik saja. Jehuda Christ Wahyu bahkan sempat mengikuti acara Wisuda Night dengan teman-teman. Ia juga masih sempat mengambil seragam toga untuk dikenakannya saat upacara wisuda.

Namun karena kondisi kesehatannya yang terus menurun, akhirnya ia mengorbankan momen wisuda untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah melakukan tes rekam jantung dan cek darah lagi, barulah kemudian ditemukan kondisi sebenarnya penyakit yang diidap pria ini.

“Gue di rekam jantung dan cek darah lagi. Baru ketauan anemia gue sampe sel darah merah berubah bentuk jadi kurus dn pucat,” ujarnya.

Jehuda Christ Wahyu mengakhiri ceritanya di Twitter dengan sebuah pesan terakhir. Ia menyampaikan kepada warganet untuk tetap jaga kesehatan. Skripsi memang penting untuk cepat diselesaikan, namun lebih penting lagi dengan kesehatan tubuh yang juga patut dipikirkan.

“Jaga kesehatan semuanya! Aku menyesal kenapa bisa sakit, ya emang gatau sih sakit apa,” tutupnya.

Kisah tersebut ia tuliskan di akun Twitter miliknya pada 25 Oktober lalu. Namun beberapa waktu belakangan, banyak teman-temannya yang mengabarkan kalau Jehuda Christ Wahyu telah meninggal dunia.

Saat dihubungi tim brilio.net, Kamis (28/11), salah satu temannya bernama Keshia mengungkapkan kalau Jehuda Christ Wahyu meninggal dunia pada Minggu (24/11) pukul 02.00 WIB dini hari.

“Benar, (meninggal dunia) tanggal 24 November sekitar jam 2 pagi,” ungkap Keshia kepada brilio.net. ( brilio.net/detik.com)

Artikel ini terakhir diupdate padaNovember 30, 2019 @ 12:59 pm

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: