KUMON VS PRIMAGAMA, Manakah Yang Lebih Baik?

Hallo Teman, Apakah Kamu berniat ingin mengikuti pelajaran di Kumon atau Primagama? sulit untuk memilih manakah lembaga pendidikan informal yang sesuai dengan selera dan isi otak mu? Ayo kenali tempat kursus ini dari latar belakang bisnisnya. Suka tak suka pendidikan extra itu tidak pernah ada yang murah.

Coba kita lihat Primagama. Menurut pengakuan websitenya mereka, Primagama merupakan salah satu lembaga bimbingan belajar senior asli Indonesia. Dimulai pada 10 Maret 1982 di sebuah kantor di Yogyakarta. Primagama memberikan pendidikan tambahan bagi siswa sekolah dasar dan menengah untuk memperoleh keberhasilan akademik. Primagama memiliki 766 cabang, 400 mitra bisnis, dan lebih dari 20.000 staf. Penghargaan mencakup sertifikat ISO 1998, Superbrand, Marketing Award, Franchise Award, dan Top Brand for Kid. Saat in bisnis Primagama sangat besar dan sangat menguntungkan untuk pemegang franchisenya. 

Kalau kita melirik Kumon, lembaga ini memiliki badan hukum di Jepang atas nama Kumon Educational Japan Co. Ltd. Namun  badan hukum tersebut hanyalah untuk mencakup Metode mengajar matematika dan membaca untuk siswanya saja. Sebetulnya badan hukum tersebut tidak bisa digunakan dinegara Indonesia. Saat ini ada banyak operator franchise mereka ini, namun legalitas dari entitas setiap lembaga seharusnya berbeda dan mandiri, terlepas dari pemilik merek dagang tersebut yang bukti datanya tidak terbuka untuk publik. Merek Kumon sudah terlalu generik dan banyak digunakan kursus liar tanpa legalitas yang jelas pula.

Lembaga lokal seperti Primagama bisa kita telusuri legalitasnya dari nomor pendaftaran badan usaha di direktori kemenkumham (Cari sendiri yah…). Sehingga bagi orangtua yang “Kaypoh” lebih mudah ditelusuri asal muasal serta keasliannya, namun hal yang sama sangat sulit dibuktikan oleh rantai franchise Kumon di Indoneisa. Sumber yang paling murah yang bisa kita cari ya websitenya Kementrian hukum dan ham untuk legalitas hukum, maupun melihat dan menanyakan direktori dinas pendidikan provinsi maupun kota anda sendiri. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang super “Kaypoh”, rata-rata pasrah saja  dengan melihat bangunan fisik tanpa mempedulikan legalitas lembaga kursus tersebut.

Terlepas dari soal legalitas, kualitas pengajaran sebenarnya haruslah dinilai dari pengajarnya dan alumnusnya. Menurut Kami, pendidikan yang terbaik yang sudah terbukti menolong pelajar yang ketinggalan disekolah adalah belajar privat maupun Otodidak (sendiri).  Jika dihitung dari nilai ekonomi, belajar privat memang sedikit bayar mahal, namun perhatian guru kepada kalian akan fokus dan mudah diawasi oleh orangtua dirumah. Orangtua juga wajib untuk membuat fasilitas belajar-mengajar sekondusif mungkin.

Jika dinilai secara obyektif, ruangan kelas kursus yang terdiri dari siswa lebih dari 6 orang itu sama saja prinsipnya dengan ruangan kelas sekolah. Guru tetap membagikan waktunya kepada murid lain, ibarat kata ya seperti MENGIKUTI kursus. Namun Seperti SEKOLAH FORMAL, lembaga belajar seperti KUMON maupun PRIMAGAMA semuanya sama saja konsepnya. Faktor pembeda adalah lembaga kursus lokal biasanya berorientasi pada kurikulum sekolah dan trik dalam menyelesaikan PR maupun cara alternatif dalam mengerjakan soal kisi-kisi ujian nasional.

Jika benar mentri pendidikan kita yang baru akan menghapus ujian nasional, maka konsep kursus nasional pun pastinya akan berubah.  Setiap daerah mungkin memiliki standar penilaian masing-masing yang dikontrol oleh sekolah dan dinas pendidikan kota maupun provinsi. Sedangkan lembaga bisnis pendidikan seperti kedua ini  hanya menjanjikan cara menghitung atau metode belajar cepat versi mereka tanpa tahu untuk apa sih ilmu atau metode itu di pelajari.

KENAPA BISA BEGITU?

Apakah anda pernah melihat fenomena anak dari ekonomi orangtua miskin dan serba kekurangan JUSTRU lebih berprestasi daripada anak yang capek – capek orang tuanya daftarkan kursus ? 

Dalam keadaan terpaksa, sama seperti manusia bertahan hidup di kutub utara selama 4 bulan atau manusia yang terdampar di pulau seperti film LIFE of Pie loh. Orangtua harusnya menyadari, tidak semua anak memiliki potensi seperti Thomas Alfa Edison sampai Albert Einstain Belajar yang jenius karena extra lesson maupun peran Guru disekolahnya.  Menurut hemat kami, orangtua selayaknya memberi kelas tambahan (kursus maupun privat) hanya jika anaknya tertinggal dan kurang kompetitif jika dibandingkan standar nilai sekelasnya saja. Berikan anak kesempatan untuk mengikuti pelajaran lain seperti les musik, les manga dan lainnya.

Dalam usia pertumbuhan hingga menginjak masa pubertas, anak didik pasti butuh waktu untuk tidur lebih lama dari orang dewasa maupun waktu bermain, “me time” maupun bersosial. Waktu pertumbuhan ini haruslah dihargai oleh orangtua, karena justru waktu istrahat inilah potensi anak terkembang dan jaringan saraf otak anak bertumbuh. 

CHEMISTRY (KECOCOKAN)

Kemampuan dan karakter guru les dalam mengajar juga sangat beragam. sehingga TIDAK ADA jaminan bahwa akan ada kecocokan antara murid dan guru les. Perlu anda sadari bahwa dari penampilan guru, suara, intonasi dan bahkan bau badan serta parfum juga mempengaruhi impresi ketertarikan anak didik dengan gurunya, terutama anak usia SD dan SMP yang secara jujur dan blak-blakan berkomentar.

Kesuksesan proses les itu semua sih dimulai dari Keinginan dan kemauan si anak sendiri. MAU di KUMON atau PRIMAGAMA kalau tidak ada keinginan untuk belajar dari dalam diri sendiri ya sama saja sia-sia dan buang uang -buang waktu. Otak  anak berfungsi secara maksimal ketika berada dititik dimana ia tidak bisa bertanya kepada siapapun dalam memecahkan suatu soal. Jika dibiasakan, otak  anak pun bekerja maksimal jika ada disiplin serta kemandirian dalam belajar daripada sediki-dikit tanya guru les.

Saran kami, lebih baik mencari referensi les privat tutor kepada mahasiswa ataupun guru yang baru lulus sarjana yang memiliki pengalaman mengajar les dalam jumlah kelas yang kecil. Mengapa begitu? Karena nyatanya, tujuan dari les mata pelajaran itu untuk mengejar ketertinggalan nilai rapor di sekolah bukanlah mengejar gengsi dan ego orangtua dihadapan rekan sesama orangtua murid!

Kalau mencontoh istilah orang Hokkien Singapura yaitu “Kiasu”, atau rasa ego tidak mau ketinggalan, merupakan hal yang wajar dialami juga oleh orangtua di Indonesia. Namun jangan pernah anda lupakan, bahwa anak anda juga memiliki potensi lain yang mungkin tidak tergali jika waktunya dihabiskan karena terlalu sibuk dengan pelajaran tambahan.

Perlu anda pahami jika apa yang kami rangkum berikut ini merupakan opini kami pribadi sebagai orang tua maupun sebagai pengajar. Semoga bermanfaat!


 

Artikel ini terakhir diupdate padaJuni 28, 2019 @ 3:28 pm

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: