Jepang memang negara suku yang mayoritas homogen dan memiliki masyarakat sekuler. Namun, sekitar 91% pemakaman di Jepang dilakukan dengan ritual upacara Buddha, Shinto maupun Kristen dengan metode Kremasi. Sisa kremasi ini yang kemudian dikuburkan dengan luas tanah yang lebih kecil. Jepang memang negara yang membudayakan pemakaman kremasi dan secara adat kepercayaan di Jepang memang normanya begitu.

Meskipun ada peningkatan jumlah penduduk asing di Jepang yang mempraktikkan Islam, kuburan yang menawarkan penguburan sesuai dengan keimanan muslim tetap jarang. Jepang memang negara yang dipenuhi perbukitan, rentan pergerakan tanahnya dan perbukitannya pula rawan longsor. Hal ini tentu membuat kalangan warga Muslim Jepang mesti berjuang ekstra untuk memberikan pemahaman tentang perlunya alokasi tanah baru dari penduduk dan pemerintah Jepang setempat.

Tempat pemakaman (latar depan) tersedia untuk umat Islam di Yoichi Reien, sebuah pemakaman di Yoichi, Hokkaido, digambarkan pada 15 Juli 2020. (Kyodo)

Berdasarakan data dari statistik kependudukan Jepang, saat ini ada sekitar 200.000 jiwa umat Muslim, sebuah angka yang kemungkinan akan terus bertumbuh. Negara Jepang memang menerima banyak pekerja asing, namun saat ini hanya ada tujuh lokasi untuk pemakaman Islam.

Tempat pemakaman tersedia untuk umat Islam di Yoichi Reien, sebuah pemakaman di Yoichi, Hokkaido, digambarkan pada 15 Juli 2020. (Kyodo). Dalam wawancara media setempat KyodoNews; “Dibutuhkan uang, waktu, dan upaya untuk dimakamkan di negara asal saya, dan itu tidak realistis,” kata seorang pria 57 tahun dari Pakistan yang tinggal di Sapporo.

Budaya pemakaman orang Jepang sendiri memang unik. Segera setelah kematian (atau, pada hari-hari sebelumnya, tepat sebelum kematian yang diperkirakan), kerabat dan keluarga terdekat berkumpul untuk berdoa dan membasahi bibir orang yang meninggal dengan air, sebuah praktik yang dikenal sebagai air pada saat terakhir (末期 の 水, matsugo-no-mizu).

Sebagian besar rumah Jepang juga memiliki altar Budha berbentuk kecil, atau butsudan (仏 壇); dan banyak juga yang memiliki kuil Shinto kecil, atau kamidana (神 棚). Ketika kematian terjadi, altar kuil ditutup dan ditutupi dengan kertas putih untuk mengusir roh-roh orang mati yang tidak murni, sebuah kebiasaan yang disebut kamidana-fūji (神 棚 封 じ). Altar ini umumnya berbentuk meja kecil yang dihiasi dengan bunga, dupa, dan lilin diletakkan di sebelah tempat tidur almarhum.

Kuburan dan nisan orang Jepang berisikan sisa kremasi dengan jumlah yang kecil sehingga bisa berisikan banyak anggota keluarga.

Pria itu datang ke Jepang 32 tahun yang lalu, menikah dengan seorang wanita Jepang yang memiliki dua anak dan tidak memiliki rencana untuk meninggalkan negara itu.

Karena ada kepercayaan akan penghakiman hari terakhir dan orang mati akan dibangkitkan, Islam menyatakan bahwa orang-orang beriman dikuburkan karena jiwa perlu kembali ke tubuh fisik, menurut Asosiasi Muslim Jepang.

Menurut Departemen Kesehatan, Perburuhan dan Kesejahteraan, pemerintah pusat belum menetapkan peraturan untuk penguburan dan meninggalkan kota untuk membuat aturan mereka sendiri tentang masalah-masalah seperti jarak lokasi dari daerah pemukiman dan sungai. Pada tahun fiskal 2018, lebih dari 99 persen mayat di Jepang dikremasi.

Menurut Japan Islamic Trust, Jepang sama sekali tidak memiliki situs pemakaman untuk Muslim di wilayah Tohoku timur laut atau di barat wilayah Chugoku.

“Jenazah seringkali harus dipindahkan ke kuburan yang jauh, yang dapat merusak jenazah atau mengakibatkan biaya transportasi yang tinggi,” kata direktur jenderal kepercayaan, Qureshi Haroon.

Salah satu dari tujuh situs adalah pemakaman biasa di Hokkaido di kota pantai Yoichi. “Tapi Yoichi Reien hanya menawarkan ruang yang sangat terbatas untuk penguburan – hanya empat hingga lima ruang bebas” kata Towfik Alam, ketua Masyarakat Islam Hokkaido, seperti yang diliput oleh KyodoNews.

Jika memiliki pasangan yang masih hidup, maka batu nisan kuburan dijepang tetap mencantunmkan nama pasangan yang masih hidup itu dengan cat berwarna merah. Orang Jepang yang ekonominya mampu memang sudah mencicil atau memiliki kuburan keluarga sendiri.

Meskipun masyarakat telah merencanakan untuk membuat pemakaman di Otaru yang akan mengikuti protokol Hokkaido seperti berada setidaknya 110 meter dari daerah perumahan, proyek itu ditinggalkan musim panas lalu setelah gagal mendapatkan dukungan dari penduduk.

“Warga khawatir tentang kebersihan penguburan, di antara aspek-aspek lain,” kata seorang juru bicara kota Hokkaido yang tidak mau disebutkan namanya.

Sementara itu, ada rencana untuk membangun pemakaman bagi umat Islam di Prefektur Oita, tetapi juga menghadapi tekanan balik dari penduduk setempat yang khawatir tentang polusi air.

Hirofumi Tanada, seorang profesor kehormatan di Universitas Waseda dengan pengetahuan luas tentang komunitas Muslim Jepang, mengatakan bahwa mengakomodasi kebutuhan para praktisi bukan hanya Islam tetapi sejumlah tradisi keagamaan telah menjadi lebih penting sejak Jepang mengubah undang-undang imigrasi April lalu untuk menerima lebih banyak pekerja asing.

“Masalah tentang penguburan hanyalah satu contohnya,” katanya.


Sumber: Kyodo News