ga('set', 'userId', 'USER_ID'); // Set the user ID using signed-in user_id.

Koperasi itu apa sih? Mengenal ideologi Bapak koperasi dunia FW. Raiffeisen asal Jerman

Pernah kah kamu melihat Rabobank di Indonesia? Tahukah kamu kalau sebenarnya awal perjuangan gerakan koperasi berasal dari buah pemikiran dan semangat pak Raiffeisen yang seorang walikota kecil di Jerman?

Koperasi modern yang ada seperti Rabobank dan Achmea sedang menilai kembali ‘akarnya’. Di seluruh dunia berbagai koperasi baru bermunculan, terutama di sektor keuangan. Seperti Inisiatif Baru di Belgia, Dana Roti (Broodfonds) atau Serikat Kredit pinjam meminjam hanyalah beberapa contoh koperasi yang sedang bermunculan. Anggota parlemen Belanda Eddy van Hijum (CDA) baru-baru ini menyerukan promosi dan dukungan lebih lanjut dari serikat kredit. Namun filosofi koperasi jauh dari ide baru. Pak Friedrich Wilhelm Raiffeisen, pendiri koperasi kredit, lahir sejak lama. Berbeda dengan tipikal orang Belanda maupun Eropa yang lain, Jerman pada masa itu dalam keadaan krisis ekonomi dan gagal panen besar. Apa yang bisa kita pelajari dari model bisnis koperasi kredit pertama hasil pemikiran pak Raiffeisen ini?

Pak Friedrich Wilhelm Raiffeisen lahir pada tahun 1818 di kota Hamm di Jerman. Pada usia 27 ia diangkat sebagai Weyerbusch, menjadi walikota sekelompok desa kecil di daerah pertanian yang sangat miskin bernama Westerwald. Krisis besar pada saat itu mengharuskannya untuk mengambil tindakan segera. Panen yang gagal menyebabkan kelaparan dan kekurangan uang serta kemiskinan. Masyarakatnya terjerumus pada belas kasihan dari rentenir. Pada saat itu mereka telah meminjam uang dengan tingkat bunga yang sangat tinggi. Pak Raiffeisen sendiri sebagai walikota memiliki dan mengatur fasilitas perolehan gandum yang merupakan bahan makanan orang Jerman pada umumnya melalui pemerintah, tetapi membeli gandum pun harus dibayar tunai.

Pak Raiffeisen punya ide untuk menyelesaikan masalah ini dengan membentuk badan amal sosial yang dikenal sebagai Bread Society (Broodfonds). Dia meminta penduduk kota yang sukses dan kaya untuk memberikan sedekah dan kelebihan uang mereka untuk membeli gandum dan memberikan gandum tersebut kepada asosiasi tukang roti dengan harga yang wajar. Asosiasi kemudian meminjamkan uang maupun pinjaman roti kepada petani miskin untuk membeli roti. Semua petani yang meminjam uang dapat secara perlahan mengangsur cicilan dan membayar hutang kecil mereka setelah satu tahun dan kebutuhan mereka pun akan hutang pada rentenir dan lintah darat berkurang. Setelah itu kemudian hampir semua Weyerbusch (Asosiasi Roti), dan asosiasi di kota-kota lain seperti Flammersfeld (Asosiasi Sapi) dan Heddesdorf (tempat koperasi kredit pertama didirikan) mengikutinya. Prinsip yang mendasarinya adalah “Bantuan melalui Swadaya masyarakat”.

Lalu apa model bisnis koperasi, dan apa yang bisa kita pelajari darinya?

Tidaklah mengejutkan mengetahui bahwa Raiffeisen berfokus pada komunitas lokal secara keseluruhan. Dia mengenal karakter setiap pengusaha dan rakyatnya. Bagaimanapun, dia adalah walikota asli setempat dan karena itu peduli dengan kesejahteraan dan kemakmuran semua warga ‘nya. Namun, beliau tidak pernah pilih kasih dalam mencari modal untuk operasi, dan proses penagihan maupun manajemen keuangan. Koperasi Raiffeisen berfokus secara khusus sebagai perantara modal dari orang orang kaya dan orang miskin. Dia meminta orang kaya untuk menabungkan kelebihan uang maupun produksi mereka agar tersedia dengan harga yang wajar. Dia kemudian dapat meminjamkan uang tersebut kepada orang miskin sehingga mereka bisa bertahan hidup dan berusaha. Wilayah kerja geografis koperasi adalah pilihan penting: setiap kota yang menerapkan sistem koperasi wajib membatasi wilayah operasional koperasi pada saat itu. Inilah mengapa koperasi bermunculan di banyak tempat berbeda, masing-masing beroperasi di daerah kota mereka sendiri. Koperasi di Jermanbisa tumbuh mengalahkan perbankan, tetapi tidak menjadi perusahaan individual yang dimiliki beberapa orang. Koperasi menjadi milik setiap anggotanya, Merek yang rajin menabung dan mereka yang rajin meminjam. Akhirnya idenya pak Raiffeisen bisa menyebar, menciptakan koperasi kecil baru di mana saja diseluruh penjuru Eropa yang diposisikan sebagai jantung komunitas daerah.

Koperasi merupakan solusi win-win untuk sikaya dan simiskin. Apa yang diperoleh orang kaya dari menjadi anggota koperasi? Dan berapa biayanya? Pertama, saat itu pemberi pinjaman sikaya menerima tingkat bunga yang wajar (3%) untuk meminjamkan uang surplusnya. Dia juga tahu bahwa uang itu akan digunakan dengan baik karena akan bermanfaat bagi masyarakat. Itu membuat sikaya merasa senang karena dia tidak hanya bersedekah membantu orang lain membangun kembali mata pencaharian mereka, tetapi juga mendukung masyarakat selama masa-masa sulit. Orang kaya tidak perlu membayar harga yang mahal untuk ini, tetapi tentu saja berisiko. Dia berkewajiban untuk menjadi anggota dan karenanya bertanggung jawab secara bersama dan merasakan sangat penting untuk menjaga keberadaan koperasi. Pak Raiffeisen sebagai walikota yang berkuasa sebenarnya tahu bahwa ia dapat memobilisasi dan memeras paksa semua orang kaya atau dengan memohon belas kasihan melalui sisi ajaran agama masyarakat setempat yang mayoritas Kristen, tetapi dia tidak mengambil untuk kekayaan keluarganya sendiri. Setelah beberapa tahun risikonya berkurang karena semua pinjaman akan dilunasi dengan benar, laba akan tetap berada di dalam koperasi dan modal pribadi akan menjadi berlimpah.

Dan apa manfaat yang dirasakan oleh peminjam? Mereka menerima uang untuk membangun kembali hidup mereka, bahkan di saat kelaparan, gagal panen dan yang lainnya. Tingkat bunga wajar: 3,5% dan biaya 0,25%. Mereka juga diberi banyak waktu untuk membayar kembali pinjaman, walaupun dengan pendekatan ‘toleransi nol’ jika perjanjian pembayaran tidak dipatuhi. Di satu sisi, ini membangkitkan solidaritas perasaan malu untuk meminta bantuan koperasi secara berlebihan, tetapi di sisi lain, itu memberi semangat perasaan: “Saya bisa melakukannya sendiri sekarang. Saya tidak lagi bergantung pada belas kasihan rentenir. ”Meskipun peminjam harus membayar tingkat bunga yang adil, itu jauh lebih rendah daripada yang diminta oleh rentenir. Mereka juga harus menunjukkan perilaku layak kredit. Mereka yang memiliki reputasi tidak membelanjakan uang dengan bijak dan menghamburkannya tidak akan memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman dari koperasi. Ini adalah mekanisme koreksi diri yang penting dari dimensi perilaku manusia.

Proses pemberian pinjaman adalah aspek kunci lain dari model bisnis koperasi. Setiap permintaan pinjaman diteliti dan diawasi oleh karyawan maupun oleh sesama anggota koperasi. Koperasi melihat risiko potensial terlebih dahulu, tetapi juga terutama pada perilaku dan sikap peminjam. Apakah orang tersebut layak mendapat kredit? Bisakah dia dipercaya untuk menangani uang dengan benar dan membayar kembali pinjaman? Siapa sajakah sanak familynya? Sifat lokal koperasi juga memfasilitasi ini. Orang-orang anggota koperasi wajib saling kenal dan bisa saling memanggil untuk menjelaskan perilaku teman mereka yang kesulitan ataupun tidak mau membayar. Dan untuk melengkapi semuanya, koperasi juga memeriksa bagaimana orang akan menghabiskan dan menggunakan uang yang ingin mereka pinjamkan. Pinjaman itu harus untuk investasi atau pengeluaran yang masuk akal dan bukan untuk konsumsi berlebihan. Itulah bagaimana Jerman saat ini mayoritas dapat menghindari krisis kredit macet… Ini penting tidak hanya untuk Raiffeisen tetapi juga untuk anggota sendiri karena mereka secara pribadi bertanggung jawab. Meskipun mereka benar-benar ingin membantu orang lain karena rasa kasihan mereka, mereka enggan mengambil risiko yang tidak perlu. Perlu juga dicatat bahwa koperasi adalah asosiasi milik anggota. Anggota menjadi sasaran risiko dan bertanggung jawab, tetapi juga memiliki suara. Mereka bisa memilih dewan sendiri dan karyawan pun wajib menjadi anggota dari dalam jajaran mereka.

Koperasi saling membantu dalam membentuk oganisasi payung koperasi hingga didirikan. Koperasi kecil di semua berbagai kota rentan dan juga berisiko mengalami kesulitan.

Tapi Raiffeisen juga punya ide bagaimana menghadapinya. Sebuah koperasi pusat dibentuk, di mana berbagai koperasi kredit menjadi anggotanya. Karenanya, koperasi bisa saling membantu ketika dibutuhkan.

Apakah Hasil model bisnis koperasi?
Hasil model bisnis koperasi Raiffeisen sangat menakjubkan. Karl Marx, seorang pakar sosialis kontemporer di wilayah yang sama, sebenarnya iri dengan keberhasilan ideologi koperasi yang diciptakan oleh pak Raiffeisen. Kemakmuran dan kesejahteraan meningkat di seluruh Westerwald. Desa-desa dan kota-kota berkembang, dan orang-orang sekali lagi dapat menentukan mata pencaharian mereka. Di Flammersfeld, misalnya, para petani yang dulunya menyerah pada pinjaman rentenir dan para toke pengepul lintah darat kini menjadi petani bebas lagi dalam satu generasi, tidak ada lagi hutang warisan. Dalam beberapa tahun kemudian setelah gerakan pak Raiffeisen, ada 75 koperasi, dan dalam waktu singkat gagasan koperasi telah menyebar ke seluruh Jerman, melintasi perbatasannya dan, ya, di seluruh dunia termasuk di Jepang dan Indonesia melalui pak Muhammad Hatta yang memang mempelajari dan anggota dari koperasi semasa pendidikannya di Eropa. Berbagai hal juga berkembang dengan baik di tingkat keuangan.

Dalam waktu kurang dari satu dekade koperasi memiliki omset 40.000 Thaler, dengan 20.000 Thaler ditawarkan sebagai pinjaman dan modal cadangan 1.500 Thaler. Dan hanya dalam waktu tiga puluh tahun sekitar tiga ribu koperasi lokal berafiliasi dengan koperasi pusat. Hasil ini bersifat jangka panjang mengingat bahwa bank koperasi saat ini biasanya memiliki tingkat kelayakan kredit tertinggi dan memberikan stabilitas dalam sektor keuangan. Sisi negatifnya juga ada, yaitu Perbankan yang dimiliki sekelompok pemilik modal menjadi kurang populer di Eropa.

Pelajaran dari pak Friedrich Wilhelm Raiffeisen yang bisa kita ambil adalah model bisnis yang cemerlang tidak dibuat dalam sekali jalan. Sebaliknya, konsep ini diciptakan oleh keberanian untuk coba-coba. Bread Society dibentuk pertama kali, diikuti oleh Cow Society dan kemudian Charitable Society, yang akhirnya berpuncak pada sebuah koperasi. Pelajaran yang dapat diambil sementara itu terus-menerus dimasukkan ke dalam ide baru.

Dimensi hubungan sosial antar manusia adalah prasyarat untuk koperasi. Karena hubungan timbal balik adalah bagian penting dari model bisnis, koperasi harus tetap relatif kecil sehingga orang-orang saling mengenal, dapat saling percaya dan dapat saling membantu. Kontrol sosial, rasa saling percaya, dan dimensi manusia adalah landasan penting dari model bisnis koperasi.
Struktur koperasi secara inheren dapat diskalakan, tanpa kehilangan dimensi manusianya. Koperasi lokal dapat diduplikasi dengan mudah, yang memungkinkan mereka tumbuh sambil mempertahankan otonomi daerah.

Gagasan membantu orang untuk membantu diri mereka sendiri adalah filosofi yang kuat. Ini adalah konsep yang adil untuk semua orang dan menciptakan situasi yang saling menguntungkan. Saling ketergantungan dan kepemilikan bersama memperkuat ini.
Mempertahankan inti dari suatu organisasi mengharuskan Anda untuk terus berbagi.


Sumber Raiffeisen foundation wikipedia

Artikel ini terakhir diupdate padaJuli 9, 2019 @ 11:24 pm

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: