Kenapa Orang China Kaya – Kaya DI Indonesia?

Film terbaru crazy rich Asian banyak sekali mengundang kontroversi apalagi menunjuk sekelompok etnis tertentu yang kaya raya di Singapura. Bagi orang Singapura asli saja film tersebut diyakini terinspirasi dari kisah nyata walaupun tidak sepenuhnya akurat. Mengapa? Karena bagi orang Singapura, mereka yang kaya sebenarnya orang konglomerat keturunan pendatang dari Indonesia, daratan China maupun lainnya.

Fenomena warga keturunan yang gagal berasimiliasi di Indonesia tetapi bisa sukses menikmati kemerdekaan di Negara Indonesia menang bukanlah hal baru. Memang ada banyak warganegara Indonesia keturunan yang justru tinggal di Singapura maupun negeri Australia sambil kurang berkontribusi pada negeri yang mengadopsinya. Tetapi hal ini sebenarnya kesalahan pemerintah Indonesia masa lalu juga.

Periode exodus warga negara komunis China Dimasalalu memang karena mereka ingin kabur dari kekejaman Rezim Komunis Mao China. Namun saat ini kesenjangan sosial ekonomi Indonesia, membuat rasa kecemburuan sosial semakin diperparah oleh beragam publikasi media. Warga keturunan yang gagal berasimiliasi dan gagal berkontribusi pada ekonomi justru menyimpan harta, bergaya hidup hedonism tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, Bisa tinggal dirumah yang Nyaman, Mewah, Dan hidup layaknya Crazy Rich ASIAN.

Setidaknya menurut Wikipedia, diskriminasi dan kekerasan terhadap orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia telah dicatat setidaknya sejak tahun 1740, ketika Pemerintah Kolonial Belanda membunuh sampai dengan 10.000 orang keturunan Tionghoa selama peristiwa Geger Pacinan. Sejak saat itu, diskriminasi dan kekerasan telah dicatat baik oleh pemerintah asing dan Indonesia. Kejadian terburuk terjadi pada tahun 1998, ketika ratusan orang Tionghoa tewas dan puluhan lainnya diperkosa selama kerusuhan Mei 1998. Sangat disayangkan sekali, pemerintah Indonesia belum pernah serius menangani rekonsiliasi dan pengadilan akan kasus kemanusiaan ini seperti yang ditulis pada sila ke 5 pancasila.

Diskriminasi dapat mengambil bentuk kekerasan, diksi atau penggunaan bahasa, dan undang-undang yang sangat membatasi. Karena diskriminasi ini, Tionghoa-Indonesia telah mengalami krisis identitas, tidak dapat diterima oleh Cina dan penduduk Indonesia asli. Yang lebih lucu lagi, ada figur warga keturunan yang menggunakan istilah politik pribumi untuk memenangkan posisi politik di Indonesia. Lalu kenapa Mereka Bisa menjadi penguasa uang mayoritas padahal kaum minoritas?

  1. Fondasi budaya China klasik memang kekayaan dan kesejahteraan duniawi. Bisa terlihat dari karya seni ornament emas dan warna merah yang cerah mencolok serta petasan renteng yang meriah saat imlek.
  2. Banyak Leluhur Mereka sebenarnya terpaksa menjadi Pedagang atau Penengah yang mengambil untung dari kompeni dan kurang aktif mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Hal ini terjadi karena kebijakan apartheid era penjajahan VOC, etnis cina memang diperlakukan lebih baik daripada etnis asli Indonesia.
  3. Banyak Filsafah Orang China Menganggap menghalalkan segala macam cara walaupun Menipu Orang Lain Untuk Menjadi Kaya adalah Hal Yang Wajar, termasuk menipu keluarga sendiri.
  4. Kesalahan pemerintah Indonesia di dimasa lalu yang justru menekan etnis minoritas untuk tidak melaksanakan ritual budayanya. Hal ini mungkin menimbulkan kebencian tersembunyi bagi warga negara keturunan. Hal yang sama juga sebenarnya dirasakan unsur etnis minoritas lain walaupun mereka berstatus warga negara asli Indonesia.
  5. Anggapan bahwa golongan Pribumi itu Bodoh Karena mereka melihat biarpun pribumi banyak yang menjadi Tuan tanah, mereka tidak bisa mengelola, malah tanah warisan dijual untuk bisa sogok masuk jadi Pegawai
  6. Sistem Bisnis Kekeluargaan Marga Yang bertujuan untuk bisnis guna mencapai kekayaan yang absolut, bahkan iuran marga mereka saja tidaklah murah. Hal ini terkadang menyingkirkan mereka yang bermarga tetapi tidak mampu membayar biaya rutin tersebut.
  7. Banyak figur Mereka Bekerja Keras dengan bekerjasama dengan penguasa korup. Mereka tega melakukan segala cara untuk menjadi operator Perusahaan Kompeni Seperti Keluarga Cendana, salim dll.
  8. Walaupun banyak juga etnis minoritas yang ekonominya lemah, Pendidikan anak dianggap sebagai investasi dan menjadi fokus utama dari tabungan keluarga.
  9. Generasi perang dunia masih merasakan pedihnya kemiskinan, pengungsian dan kekeluargaan dengan lingkungan masyarakat, hal inilah yang membuat mereka untuk selalu berhemat dan bisa berasimiliasi, walaupun generasi berikutnya cenderung pemboros, sombong dan tidak sensitif terhadap lingkungan.
  10. Nepotisme dianggap mereka menjadi kunci Keberhasilan dan keberlanjutan usaha keluarga agar diteruskan oleh generasi berikutnya. Namun seperti teori kewirausahaan Amerika, belum ada perusahaan milik etnis keturunan di Indonesia yang bisa melewati generasi ketiga, tidak seperti perusahaan milik keluarga Jepang yang banyak sudah berusia 200 tahun lebih…
  11. Sistem kewarganegaraan pemerintah komunis cina di PRC yang dengan mudah memberikan kewarganegaraan kepada setiap orang keturunan etnis China. Hal ini juga yang membuat koruptor kelas paus seperti Edy Tansil bisa melarikan uang negara ke RRC, walaupun banyak saudara kandungnya masih hidup senang di Indonesia. Hal kewarganegaraan ini juga menjadi jaminan koruptor lain dari seluruh dunia yang bisa membuktikan status keturunannya.
  12. Keahlian berbahasa Hokkien bagi suku cina hakka dan bahasa suku lainnya membuat pembicaraan maupun transaksi dagang dengan informasi rahasia menjadi sulit dipahami pihak lain yang tidak mengerti. Bahasa suku seperti Hokkien sendiri tidak dipelajari oleh orang cina daratan yang berbahasa mandarin maupun Kanton. Kerahasiaan ini memang seperti sistem enkripsi data yang diperlukan untuk kalangan tertentu dalam kegiatan bisnis didepan umum.

source: fortuner.id


 

Artikel ini terakhir diupdate padaNovember 9, 2018 @ 9:59 pm

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: