ga('set', 'userId', 'USER_ID'); // Set the user ID using signed-in user_id.

Kejamnya hidup di Singapura membuat pendidikan anak pun super kompetitif

Singapura memang negara yang sangat fenomenal. Meskipun kecil dari segi luas wilayah namun para elit pemimpinnya telah mampu membuat negeri kecil itu menjadi sangat penting dalam bisnis dunia. Bahkan Indonesia yang sangat luas di sebelahnya telah dapat ‘ditundukkan’ melalui sejumlah ketergantungan bisnis terhadap negara tersebut

Selama tiga puluh tahun terakhir, pemerintah Singapura sudah berhasil menggaet orang-orang kaya bin tajir dari Indonesia untuk pindah ke Singapura, terutama sejak kerusuhan tahun 1998 yang kelam tersebut. Pemerintah SIngapura dengan cerdiknya menciptakan uang dolar Singapura selembar bernilai SGD$10.000 atau lebih dari 100 Juta Rupiah bila dikurskan hari ini. Begitu derasnya arus uang dan emas dari kekayaan alam dari Indonesia, Vietnam dan Thailand diperdagangkan disana. Para koruptor di kawasan ASEAN pun berbondong-bondong menyimpan uang di bank milik Singapura. Dengan jumlah uang yang banyak, tentunya dibutuhkan sumber daya manusia yang bagus pula agar para pemegang modal tersebut tidak mengalihkan kekayaannya tersebut ketempat lain.

Persoalan pendidikan di Singapura diungkap melalui situasi pendidikan dasar di negara tersebut beserta kondisi social ekonomi yang melatarbelakangi pertumbuhan negara tersebut. Sebagai negara kecil yang merdeka setelah dilepas oleh Malaysia selaku induknya, Singapura merupakan wilayah kecil yang tidak mempunyai sumber daya alam apapun. Menyadari kekurangan dan kelemahannya, pemerintah Singapura kemudian berusaha keras untuk menjadikan penduduknya sebagai modal pembangunan yang utama. Oleh sebab itulah sumber daya manusia akhirnya diberi perhatian sepenuhnya untuk memberikan peran maksimal dalam mengangkat perekonomian negara.

Uang dolar SIngapura ini memiliki tampilan yang sama dan memang terbuat dari plastik polymer yang bagus, padahal mayoritas uang didunia masih terbuat dari bahan kain kertas wool.

Pada masa awal peningkatan pendidikan, Singapura mendatangkan banyak guru dari luar negeri, kemudian secara bertahap profesi guru mulai diisi oleh lulusan perguruan tinggi dari negeri sendiri. Guru mendapatkan gaji tinggi karena dipercaya akan mampu bekerja professional dalam kecintaannya mengajar anak-anak sebagai calon generasi pembangun negerinya. Anak-anak yang masih duduk di dkelas 5 SD sebagaimana siswi yang diperankan oleh salah seorang siswi sekolah, harus bisa lulus dalam ujian penempatan untuk kelas ‘akselerasi’ (sekolah dengan masa waktu lebih singkat) atau sekolah ‘normal’ (sekolah yang berlangsung sesuai masa waktunya). Bila keduanya gagal, maka siswi/ siswa akan disalurkan ke sekolah yang lebih mengutamakan kebebsan ekspresi diri, misalnya: sekolah seni. Dalam hal penghargaan terhadap anak-anak berbakat olah-raga, sekolah akselerasi ternyata membuka kesempatan bagi para siswa tersebut.

Di Singapura sendiri, setiap sekolah elit program akselerasi mempunyai kekhususan bidang olahraga yang ditonjolkan, misalnya: menonjolkan olahraga renang, menonjolkan seni, dan lain-lain. Setiap orang tua yang mempunyai anak-anak kelas 5 SD di Singapura pasti berambisi agar anaknya bisa diterima di sekolah akselerasi elit. Bisa dibayangkan tekanan yang harus dialami oleh anak-anak sekolah dasar di Singapura menjelang tes ujian penempatan. Anak-anak yang gagal dalam cita-cita masuk ke jalur akselerasi akan merasa bahwa dirinya ‘agak bodoh’ dibandingkan teman-temannya.

Penggambaran suasana pendidikan di Singapura dengan segala seluk-beluknya dipaparkan dengan gamblang dalam film dokumenter: ‘Quiet Revolution’. Para guru, orang tua, kepala sekolah, hingga menteri pendidikan, semua berbicara, memberikan pandangannya masing-masing terhadap tujuan pendidikan dan ekses-ekses yang ditimbulkan. Matematika, sains, dan Bahasa (Cina dan Inggris), adalah pelajaran utama meraih keberhasilan menuju ke jenjang yang lebih tingi sebagai calon ‘pemikir’ masa mendatang di Singapura.

Bagi anak-anak yang ‘agak bodoh’ atau yang gagal meraih nilai tertinggi dalam mata pelajaran utama dipersilakan untuk memasuki sekolah kejuruan teknik ketrampilan tangan yang akan mendidik mereka untuk menjadi pekerja yang mahir dalam ketrampilan tangan. Salah satu kepala sekolah teknik kejuruan (ketrampilan tangan) yang dijabat oleh seorang ibu, berkata bahwa tidak harus semua siswa pada saatnya nanti berperan sebagai ‘kepala dan mulut’, beberapa juga bisa berperan sebagai ‘kaki dan tangan’. Sebuah pernyataan yang bijaksana.

Salah seorang murid (laki-laki) diperlihatkan mengalami rasa rendah diri akibat kesulitannya mengerjakan soal matematika sehingga dia gagal masuk ke sekolah ‘normal’ sekalipun. Namun setelah dia ‘terpaksa’ bersekolah di sekolah kejuruan teknik (ketrampilan tangan) yang dipimpin oleh ibu kepala sekolah tersebut, akhirnya dia pelan-pelan dapat memulihkan kepercayaan dirinya (self esteem), mempunyai harga diri (dignity), dan menikmati proses belajar di dalam kelas.

Pendidikan ala Singapura memang tampak kejam namun itulah kebijakan yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk tetap menjaga prestasi Singapura dalam mempertahankan dominasi sebagai negara tujuan bisnis dan tetap menjaga kemajuan ekonomi jangka pendeknya. Dampak negatif dari system pendidikan di Singapura akhirnya terlihat dari sikap kurang peduli pada orang lain yang banyak diidap oleh masyarakat di Singapura. Guna mengurangi efek buruk sikap egois tersebut, pendidikan di Singapura pada saat ini sudah mulai memperhatikan aspek empati dan matapelajaran yang medorong kepedulian pada sesama.


Sumber:

Wikipedia

TheStraitstime

Artikel ini terakhir diupdate padaFebruari 17, 2018 @ 5:30 pm

error: Alert: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: