Apa Pengaruh Jajahan Jepang Akan Sistem Pendidikan Indonesia ?

0
43

Jepang memang hanya 3,5 tahun di Indonesia. Namun dalam rentang waktu itu, banyak kisah pilu dan kekejaman yang kisahnya membuat siapa pun mendengarnya emosi.

Selama pendudukan Jepang, kebijakan dalam bidang pendidikan disesuaikan dengan modus -menarik simpati rakyat Indonesia-.

DAMPAK NEGATIF

Pendidikan di masa pendudukan Jepang mengalami periode jauh lebih buruk dari sebelumnya, ketika Indonesia masih di bawah penjajahan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

  • Ketika Jepang datang, Jepang menjadikan Indonesia sebagai pangkalan perangnya. Masyarakat harus hidup di bawah kondisi perang yang diterapkan Jepang. Akibatnya, berdampak pada, para pengajar harus bekerja untuk Jepang. Anak-anak bahkan turut dikerahkan membantu memenuhi kebutuhan perang. Sehingga, terjadi penurunan kualitas secara drastis baik dari keilmuan maupun mutu murid dan guru.

Jumlah Sekolah menurun. Boleh dikatakan sebagai akibat kondisi perang yang diterapkan Jepang. Beberapa sekolah masih beroperasi namun dikontrol dengan ketat. Selain itu cukup sulit untuk mendirikan sekolah swasta yang baru, Sementara, sekolah swasta yang sudah terlanjur berdiri harus mengajukan izin ulang agar bisa tetap beroperasi. Meski demikian, sekolah pesantren masih diberi kelonggaran, tujuannya untuk mengambil simpati Islam dengan sering mengunjungi pesantren sambil membawa bantuan.

  • Para pemuda juga kehilangan waktu untuk menempuh pendidikan karena dipusatkan perhatiannya untuk terlibat dalam organisasi semi militer seperti KEIBODAN dan HIZBULLAH.

  • Penanaman doktrin HAKKO I CHIU, mempersatukan seluruh negara Asia dalam imperium Jepang. Sehingga ditanamkan lah bahasa, sejarah dan adat istiadat Jepang. Bahkan menjelang Jepang menyerah, penanaman doktrin nya semakin kuat dengan harapan dapat menghancurkan ideologi Indonesia merdeka.

.

TETAPI,,,,

Tidak etis rasanya, jika kita tidak kasih tau DAMPAK POSITIF dari kebijakan Jepang dalam bidang Pendidikan, supaya berimbang..

  • Sistem pendidikan berdasarkan kelas sosial yang merupakan warisan penjajahan Belanda, dihapus oleh Jepang. Jepang menghilangkan diskriminasi/perbedaan siapa yang boleh mengenyam/merasakan pendidikan. Seperti yang kita ketahui, pada masa Belanda, yang dapat merasakan pendidikan formal untuk rakyat pribumi hanya kalangan menengah ke atas, sementara rakyat kecil (seperti kita) kesempatan mengenyam pendidikan kecil. Sebagai gambaran diskriminasi yang dibuat Belanda, ada 3 golongan dalam masyarakat, Kulit putih (Eropa), Timur Asing (Cina, India dll) dan Pribumi. Pola seperti ini mulai dihilangkan oleh pemerintah Jepang. Rakyat dari lapisan manapun berhak untuk mengenyam pendidikan formal.
    Memang, maksud diberikannya pendidikan kepada rakyat Indonesia, supaya kita mendukung kepentingan perangnya. Tapi, bukankah itu membuka kesempatan bagi kita untuk mengenyam pendidikan.

  • Jepang mengizinkan bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa resmi dalam pengantar pendidikan dan bahasa sehari-hari, selain bahasa Jepang. Bahasa Belanda tidak diperbolehkan sama sekali digunakan. Bahasa Indonesia bukan hanya sebagai bahasa pergaulan sehari-hari, tetapi telah diangkat menjadi bahasa resmi pada instansi-instansi pemerintah-an atau pada lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah tinggi. Bahasa Indonesia juga dijadikan sebagai bahasa penulisan yang tertuang pada hasil-hasil karya sastra bangsa Indonesia. Tujuannya tetap sama, menarik simpati rakyat Indonesia. Okelah, penjajahan Jepang menyakitkan (saya tidak bilang, setuju atas praktek penjajahan), tetapi, kita harus berterimakasih. Dengan diperbolehkannya bahasa Indonesia dipergunakan, secara tidak langsung, telah menumbuhkan semangat Nasionalisme di hati rakyat Indonesia. Mengungkapkan perasaan yang sama akan pahitnya penjajahan kepada sesama bangsa telah melahirlan semangat kebersamaan, akan pedihnya penjajahan.

  • Sistem pendidikan sewaktu penjajahan Jepang berbeda lho dengan yang sekarang kita rasakan. Dahulu itu pendidikannya bercirikan militerisme. Jadi, setiap pagi seluruh siswa diwajibkan untuk menyanyikan lagu kebangsaan Jepang (Kimigayo), kemudian juga mengibarkan bendera kebangsaan Jepang (Hinomaru) dan harus menghormat Kaisar Jepang (Seikirei). Nah, Jepang tetap menyisipkan modus, dengan memperbolehkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan dan Bendera Merah Putih berkibar, tepat disamping bendera Jepang berkibar. Tujuannya, tidak lain tidak bukan menarik simpati rakyat. Kurang apalagi penguatan nasionalisme di dada anak-anak Indonesia. Selain harus melakukan rutinitas upacara seperti itu, siswa-siswi zaman penjajahan Jepang juga harus melakukan Dai Toa, yaitu sumpah setia pada cita-cita Asia Raya dan wajib melakukan senam Jepang (Taiso). Kemudian mereka harus latihan fisik kemiliteran. Jika para quoran pernah melaksanakan upacara bendera setiap hari Senin pagi, beserta dengan seluruh tata upacara nya, itu semua peninggalan Jepang. Tujuannya untuk menunjukkan KESETIAAN PADA BANGSA dan NEGARA.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus akui, di tengah pahitnya pendudukan Jepang, Bangsa Indonesia tetap mengalami berbagai pembaharuan akibat didikan Jepang, yang intinya MENUMBUHKAN KESADARAN DAN KEYAKINAN YANG TINGGI dan TEGUH AKAN HARGA DIRI SERTA KESETIAAN PADA BANGSA-NEGARA..