Wilhelm Gustav van Imhoff, gubernur Batavia Jakarta asal Jerman

Hubungan Jerman dengan Indonesia merupakan hubungan persahabatan Jerman terlama dengan negara di luar Eropa. Sejak tahun 1506 Balthasar Sprenger dari Kamar Dagang Welser di Augsburg merupakan orang Jerman pertama yang mengunjungi negara kepulauan di Samudra Hindia. Kemudian disusul oleh banyak dokter, petualang, ilmuwan, pedagang, misionaris, penulis dan seniman yang kemudian menetap di Indonesia. Bahkan  sejarah mengungkap, orang Jerman sudah mengunjungi Indonesia jauh sebelum bangsa Belanda.

Karir sebagai karyawan VOC

Salah satu gubernur Batavia yang paling dikenal, Wilhelm Gustav van Imhoff (1705-1750), merupakan orang Jerman. Ia berprestasi dalam membangun kota Bogor. Kebun Raya Bogor yang juga sangat dikenal dunia juga dirancang oleh seorang ilmuwan Jerman, Casper Georg Carl Reinwardt (1733-1854).

Gustaaf Willem baron van Imhoff (lahir di Leer, Frisia Timur, 8 Agustus 1705 – meninggal di Batavia, 1 November 1750 pada umur 45 tahun) adalah Gubernur-Jenderal Hindia Belanda yang ke 27. Ia memerintah antara tahun 1743 – 1750. Van Imhoff juga dikenal sebagai orang yang kebijakannya mendorong Pangeran Mangkubumi untuk memberontak melawan Susuhunan Pakubuwana II, peristiwa yang mencetuskan Perang Tahta Jawa Ketiga (1748-1757). Perang ini berakibatkan perpecahan kerajaan Mataram Baru menjadi Surakarta dan Yogyakarta.

Juga beberapa tokoh terkenal jerman, seperti Johann Wolfgang van Goethe dan Friedrich Schiller, mempunyai hubungan erat dengan Indonesia. Nama negara ini juga dipopulerkan oleh orang Jerman. Adolf Bastian dalam laporannya menyebut „Hindia“ yang disambung dengan kata bahasa Yunani „nesus“ yang berarti pulau.

Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff di atas tanah seluas 2.471 meter persegi. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama “Toko Merah” berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Tionghoa, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama.

Di Jl Kalibesar no 11 Barat, Jakarta Kota, terdapat sebuah gedung besar yang hampir keseluruhan bangunannya didominasi warna merah. Warna yang menurut warga keturunan Tionghoa diyakini sebagai pembawa hokie alias keberuntungan, merupakan salah satu gedung peninggalan VOC yang masih tersisa. Karena mencoloknya warna merah, tidak heran kalau gedung ini dinamakan ‘Toko Merah’. Dibangun 1730 atau 269 tahun lalu, gedung yang kala itu terletak di pusat kota Batavia paling elite, pernah menjadi tempat tinggal gubernur jenderal Baron Gustav Wilhelm van Imhoff (1705-1750).

Baron van Imhoff, yang pernah mendiami ‘Toko Merah’ merupakan salah satu dari empat gubernur jenderal VOC yang pernah memerintah di Hindia Belanda berkebangsaan Jerman. Imhoff dan banyak imigran Jerman lainnya, sejak awal berdirinya VOC telah berdinas dalam kongsi dagang di Asia Timur itu. Pada 1790 – 1808, di Batavia, Semarang, dan Makasar terdapat tidak kurang dari 2.000 tentara bayaran Jerman yang didatangkan oleh VOC. Mereka dari resiman ‘Wurttemburg’. Entah karena apa, resimen ini dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Daendels pada 1808. Akhirnya, Daendels sendiri tidak berhasil mempertahankan Batavia ketika diserang Inggris pada 1811.

Prestasi Wilhelm Gustav van Imhoff

Wilhelm Gustav van Imhoff, beserta tiga gubernur jenderal VOC yang berasal dari Jerman, beruntung telah menjadi orang nomor satu di Hindia Belanda. Dalam sejarah VOC di Batavia, Imhoff dikenal sebagai salah satu gubernur jenderal VOC yang berhasil. Sekalipun ia meniti karir di VOC berkat mertuanya mantan gubernur jenderal Hyusman van der Hille tapi sejak mudanya Imhoff menjadi perhatian berkat usul-usulnya yang radikal. Boleh dikata, ia-lah salah satu gubernur jenderal yang telah melakukan reformasi di tubuh VOC, memberantas KKN yang terjadi di tubuh para pejabat VOC, mulai dari tingkat paling rendah hingga paling tinggi.

Jenis kapal Galleon abad 17-18 seperti yang ditumpangi Van Imhoff pada waktu itu ke Eropa.

Dari seorang pedagang junior yang berbasis di Batavia pada 1725 menjadi gubernur Ceylon pada 1736. Di sana ia membangun reputasi yang baik, baik dengan VOC dan penguasa pribumi, Narendra Simha, raja Singhalese wilayah Kandy. Di antara berbagai kegiatannya ia mendirikan pers dan karya-karya religius diterjemahkan ke dalam bahasa Singhal, beberapa literatur cetak pertama dalam bahasa ini. Dia juga memulai budidaya kelapa di pulau itu.

Berdasarkan catatannya ia dipromosikan lagi, kali ini ke posisi puncak gubernur jenderal Hindia Belanda pada Desember 1740. Tetapi Van Imhoff sudah tiba di Batavia pada awal tahun, di mana krisis serius berkembang. Sebagian besar tanah di sekitar Batavia digunakan untuk memproduksi tebu, dan sebagian besar perkebunan dimiliki atau dikerjakan oleh imigran Cina. (Koloni pedagang Cina telah aktif di kawasan itu jauh sebelum Eropa tiba.) Harga gula di Eropa telah runtuh tahun itu, mengakibatkan kesulitan ekonomi, pengangguran dan kerusuhan yang meluas.

Situasi pasar di Batavia masa lampau

Gubernur Jenderal Valckenier, untuk mengurangi jumlah penganggur Cina, memulai transportasi sistematis ke koloni VOC lainnya, khususnya Cape Colony dan Ceylon. Di kalangan masyarakat Cina, bagaimanapun, cerita menyebar bahwa sekali ke laut, penumpang malang itu dibuang ke laut. Ketidakpercayaan bersama akhirnya meletus menjadi pemberontakan terbuka, dan pada 7 Oktober 1740, sekelompok orang Tionghoa menyerang orang-orang Eropa di luar Batavia. Valckenier bereaksi dengan kasar dan mengeluarkan ‘dekrit’ pada 9 Oktober 1740 yang dua hari kemudian memerintahkan pembantaian massal terhadap orang-orang Cina di Batavia. Angka 10.000 korban yang sering dikutip mungkin tinggi, tetapi diketahui jumlah orang yang tewas berjumlah ribuan.

Sementara itu Van Imhoff telah tiba, orang keturunan Jerman ini menjadi gubernur jenderal berkat kesalahan fatal yang dilakukan oleh atasannya, Gubernur Jenderal Adrian Valckenier sebagai orang yang digambarkan tidak berniat menghapuskan KKN di tubuh VOC. Dia keberatan dengan kebijakan Valckenier, terutama tindakan ekstremnya terhadap orang Cina yang memicu kerusuhan dan pembakaran massal etnis Cina di Jakarta dan pulau Jawa.

George Bernhard Schwarz dari Jerman menceritakan dalam bukunya yang terbit 1751 berjudul : “Hal-hal yang luar biasa”. Ia menceritakan keterlibatannya dalam pembantaian dan amuk di luar perikemanusiaan itu. Schwarz menceritakan bagaimana ia membunuh tetangganya sekeluarga (Tionghoa), padahal sebelumnya ia tidak mempunyai masalah dengan mereka dan berhubungan dengan baik. Menurut buku tersebut, sekitar 24 ribu orang Cina laki-laki, wanita, anak-anak, orang tua, dan pasien rumah sakit dihabisi nyawanya. Keterangan jumlah korban menurut versi Jerman ini bertentangan dengan versi Belanda, yang menyebutkan korban sekitar 5.000 hingga 10 ribu jiwa.

Imhoff sendiri yang kala itu menjadi orang kedua atau wakil gubernur jenderal VOC menentang dikeluarkannya ‘dekrit’ oleh atasannya. Akibatnya, pada tanggal 6 Desember, Volckenier memerintahkan tentara untuk menangkap Van Imhoff dan menumpang kapal untuk Holland dengan alasan tidak patuh pada perintah atasan (desartir). Imhoff kemudian dikirim ke Belanda untuk menjalani hukuman. Namun, berita pembantaian luar biasa ini sampai di Negeri Belanda, Heren XVII justru mengetahui sang gubernur jenderal yang salah. Akhirnya, Valckenier dipenjara seumur hidup, dan Imhoff diangkat untuk menggantikannya dan sampai kembali di Batavia pada tanggal 28 mei 1743.

Setelah istrinya C.M. Huysman meninggal dunia pada 1743, “[Baron] van Imhoff menerima seorang wanita budak belian cantik, hadiah dari Ratu Bone. Setelah kekasih ini dibebaskan dan dibaptis, diberi nama Helena Pieters, lalu dinikahi van Imhoff. Dua dari tiga anak hasil pernikahan ini disahkan dan pindah ke Belanda,” tulis Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016). Imhoff meninggal pada 1751 dalam usia 46 tahun dan dimakamkan di Gereja Belanda di dekat Stadhuis (kini Museum Sejarah DKI di Taman Fatahillah).


 Sumber:

DW

Wikipedia

Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016)

Tinggalkan Balasan