Gubernur NTT Larang Komodo Dan Wisata Lokal Miskin Karena Kaum Elit

fortuner.id pasport hebat

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengumumkan dengan penuh kebanggaan, bahwa wisata di wilauahnya punya kasta berbeda dengan tempat wisata lain Indonesia. Menurutnya, NTT dirancang jadi destinasi wisata premium dan hanya cocok untuk wisatawan berduit saja. Backpacker, apalagi yang kere, diharap tak perlu datang.

Pernyataan ini dilontarkan setelah belakangan Lonely Planet, penerbit buku panduan wisata terkenal, menjadikan NTT sebagai destinasi terbaik dunia untuk dikunjungi pada 2020. Wah, langsung jemawa doi….

“Karena itu, wisatawan yang datang itu harus kaya. Kalau yang miskin tidak boleh datang. Saya sampaikan ke Presiden, kalau wisatawan yang miskin, kami di NTT paling banyak [orang miskin] begitu,” ujar Viktor ketika memberi sambutan dalam Festival Menipo di Kupang, dilansir Kompas. “Jadi, kalau wisatawan miskin yang datang, kami sudah tidak mau lihat lagi. Wisatawan yang miskin tolong dikirim ke Jakarta, Bali, atau Manado. Kalau wisatawan asing yang kaya kirim ke NTT saja.”

Pernyataan itu jelas bisa memicu perdebatan, sebab Viktor merasa perlu menyatakan status sosial NTT sebagai deluxe tourism demi menjaga kelestarian alam di sana. Secara tidak langsung, ia percaya turis misqueen yang mampir ke Pulau Rinca dan Gili Lawa mengandalkan tiket promo dan tabungan enam bulan lamanya, tidak bisa menjaga lingkungan lebih baik dari wisatawan tajir.

Praktik memilah-milah wisatawan oleh Viktor sebenarnya sudah terlihat sejak akhir September tahun ini. Viktor yang sempat mengumumkan akan menutup Pulau Komodo berhasil diadang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya untuk mengurungkan niat tersebut. Tapi kemudian pengunjung ke Pulau Komodo yang jadi dibatasi. Garis batasnya? Tentu saja uang.

Akan ada pengaturan keanggotaan tahunan yang bersifat premium. Siapa pun wisatawan yang jadi anggota, tentu dengan bayaran lebih besar, mereka akan diizinkan masuk ke Pulau Komodo. Sementara yang tidak memiliki kartu premium akan diarahkan ke Pulau Rinca.

“Nanti mereka [turis non-premium] akan diarahkan ke komodo yang kecil seperti di Pulau Rinca. Jadi mereka hanya bisa di sana, tidak bisa ke mana-mana lagi,” kata Luhut kepada  Beritagar.

TIdak bisa disangkal sih, NTT memang jadi sumber devisa sektor pariwisata paling menjanjikan buat negara. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kunjungan wisatawan ke NTT terus meningkat dalam rentang 2013-2017.

Pada 2013, tercatat 397.543 wisatawan berkunjung ke NTT. Empat tahun kemudian, total wisatawan sudah mencapai 616.538 orang. Penambahan ini juga memicu perkembangan industri akomodasi. Pada 2017, sudah ada 423 fasilitas menginap yang tersebar di berbagai wilayah NTT dengan 27 di antaranya berupa hotel berbintang. Angka ini naik 33 persen dari 2013.

Ambisi Viktor untuk menyejahterakan warganya lewat pariwisata memang tidak salah. Lewat industri pariwisata, Provinsi Bali berhasil menekan persentase penduduk miskin menjadi hanya 3,91 persen saja, nomor dua sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin terendah di Indonesia.

source vice