Apa yang kamu pikirkan tentang gelar profesor? ilmuwan tua beruban yang menemukan teknologi baru? atau pengajar dosen di universitas dan kampus? Indonesia memiliki banyak sekali putra-putri asli daerah yang cerdas dan ilmuwan jenius yang berkarya nyata di negeri Sakura. Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD, begitulah nama lengkapnya, telah melahirkan penemuan dan memiliki belasan paten hak cipta sejumlah perangkat satelit mini untuk cuaca hingga drone antena tipis yang biasa dipakai di kendaraan sipil, militer dan sensor autonomous untuk navigasi mobil. Disamping antena dan sistem satelit, Professor Josh juga menjadi satu-satunya profesor berwarganegara non-Jepang di Universitas Chiba di yang memiliki akses dana penelitian yang bisa dibilang tak terbatas.

Penelitian dan penemuan beliau yang paling terkini adalah circularly polarized synthetic aperture untuk pesawat tanpa awak dan small satellte, serta radar peramal cuaca 3 dimensi. Bisa dibilang jika dibandingkan dengan mantan presiden BJ. Habibie, Prof Josh memiliki prestasi yang jauh lebih berkilau namun minim pemberitaan di media dan TV Indonesia.

Walaupun beberapa kali diminta untuk menjadi warganegara Jepang, Profesor Josh lebih memilih untuk mempertahankan paspor Indonesia yang dimilikinya. Di waktu luang profesor Josh memiliki hobi mengumpulkan kamus berbagai bahasa di dunia, serta peta2 kuno. dia sering mengisi waktu luang dengan naik sepeda ontel, mencicipi makanan etnik, snorkling di berbagai danau dan laut di dunia, serta jalan-jalan bersama keluarga.

Professor Josh dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1970 di Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (dulu AURI), di Markas Komando Pasukan Gerak Tjepat (KOPASGAT) TNI Angkatan Udara Sulaiman, Bandung, Jawa BaratIndonesia. Ia adalah putra kedua dari pasangan Michael Suman Juswaljati (Instruktur Paskhas TNI-AU dan terakhir anggota Fraksi TNI DPRD Wonogiri) dan Florentina Srindadi. Ia mempunyai satu kakak yang sudah meninggal dan dua adik, yaitu Franciscus Dwi Koco Sri Sumantyo (sekarang di Halim Perdanakusuma, Jakarta) dan Lucia Tri Erowadanti Sri Sumantyo (sekarang di Pemda Wonogiri).

Membuat radar sendiri atau melakukan penelitian untuk memajukan bidang radar Indonesia (dan dunia) merupakan impiannya sejak kecil saat berkenalan pertama kali dengan radar-radar TNI-AU di perbengkelan dan pemeliharaan radar (Benhar, sekarang Satuan Radar (Satrad) Pendidikan) Pangkalan Udara Utama (Lanuma, sekarang Lanud) Adisumarmo – Solo pada saat sang ayah kesehariannya melatih pasukan komando di Sekolah Pendidikan TNI-AU (Skadik 401/402/403) kebetulan berada di sebelah Benhar tersebut.

Saat itu banyak anggota TNI-AU banyak mengenalkan jenis radar yang hampir semua buatan luar negeri kepada Josh kecil, sehingga memotivasi untuk membuat radar buatan manusia Indonesia di kemudian hari. Karier penelitian radar dimulai sejak diterima sebagai peneliti di BPPT pada tahun 1989. Kemudian ia menjadi asisten peneliti di Center for Environmental Remote Sensing, Universitas Chiba, Jepang sejak tahun 2000 dalam rangka mendukung kegiatan riset dan studi program doktornya di bawah bimbingan Prof. Ryutaro Tateishi dan Prof. Nobuo Takeuchi.

Dari tahun 1989 sampai 1999, Josh Sri Sumantyo bekerja sebagai peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta dalam pengembangan radar bawah tanah, dan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) Angkatan Darat (TNI-AD), Bandung, Indonesia dalam pengembangan Pusat Simulasi Pertempuran (PUSSIMPUR) di Bandung dan Pusat Latihan Pertempuran (PUSLATPUR) TNI-AD di Baturaja, Sumatera Selatan. Berseragam loreng ala TNI seperti ayahnya, bukanlah cita-cita akhir dari bapak satu anak ini.

Pada saat lulus Ph.D. tahun 2002, Ia diminta menjadi staf peneliti di Chiba University (Jepang), Leicester University (UK), bahkan di University of Hebrew (Israel) dan banyak universitas teknologi tinggi di negara maju. Sebenarnya teknologi satelit dan antena merupakan teknologi fungsional yang bisa dikembangkan untuk kepentingan militer dan sipil. Setiap universitas berkompetisi untuk menawarkan pendanaan dan pengembangan untuk profesor Josaphat ini. Namun, Profesor Josaphat hanya memilih pengembangan satelit sipil.

Chiba University di Tokyo Jepang pun dipilih karena dekat dengan Narita Airport (Tokyo International Airport), dan memudahkannya untuk berkeliling dunia dan pulang ke Indonesia di waktu luang, Ia pernah menduduki posisi Lecture & Post Doctoral Researcher di Center for Frontier Electronics and Photonics – Venture Business Laboratory (VBL), Universitas Chiba, Japan pada tahun 2002 hingga 2005 dengan berbagai penemuannya dalam bentuk antena tembus pandang (transparent antenna) dan berbagai jenis antena untuk keperluan smartphone.

Dalam penelitian antena ini, ia bergabung dengan laboratorium Prof. Ito Koichi. Sejak 1 April 2005 hingga 31 Maret 2013, ia bekerja sebagai Associate Professor dan Head of Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL) di Center for Environmental Remote Sensing Universitas Chiba, Jepang dan sejak 1 April 2013 hingga saat ini Josh sebagai Full Professor (Guru Besar, permanent staff) di Universitas Chiba, Jepang dan juga sebagai profesor/dosen tamu di berbagai universitas dalam negeri Jepang dan luar negeri.

Ia mulai mengenyam pendidikan formal di TK Islam Aisyah Kandang Menjangan Kartasura, SDN IV Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah (1977-1983). Kemudian dilanjutkan ke SMPN 1 Kartasura (1983-1986), Sukoharjo, dan SMA Negeri 1 Surakarta atau Solo, Margoyudan (1986-1989), Solo dengan Jurusan Fisika (A1). Selanjutnya Josh Sri Sumantyo memperoleh gelar B.Eng dan M.Eng dalam bidang rekayasa komputer dan kelistrikan di Universitas KanazawaJepang pada tahun 1995 dan 1997 dengan beasiswa Science and Technology Manpower Development Program (STMDP) II atau (beasiswa pada zaman Menristek Habibie) untuk S-1 dan Rotary International Scholarship Foundation untuk S-2, berturut-turut (Subsurface Radar Systems) dan gelar Ph.D.dalam bidang Sains Sistem Artifisial (Applied Radio Wave and Radar Systems: Satellite onboard Synthetic Aperture Radar) dari Graduate School of Science and Technology, Universitas Chiba, Jepang pada tahun 2002 dengan beasiswa dari Okamoto International Scholarship Foundation, Satoh International Scholarship Foundation dan Atsumi International Scholarship Foundation untuk menyelesaikan studi S-3 atau Doktoral.

Laboratorium profesor Josaphat memiliki mesin pembuat perangkat microwave dengan presisi tinggi (+ – 5 mikron meter) untuk mengembangkan komponen radar aperture sintetis (SAR) dan mikrosatelit asli kami. Proyek ini didukung oleh Anggaran Nasional Pemerintah Jepang (Special Budget for Project) TA 2013, “Program Diagnosa Lingkungan Bumi Terpadu: Observasi Deformasi Tanah Skala Continental dengan menggunakan Rujukan Satelit Kecil,”  1 April 2013 – 31 Maret 2017. ヨサファット研究室が合成開口レーダ(SAR)と小型衛星の素子を開発するための高精度(±5ミクロン)のマイクロ波回路デバイスの試作システムを所有しています。このシステムが、文部科学省の平成25年度の概算要求(研究代表者:ヨサファット教授)で構築しました。

Selama di Kodiklat TNI-AD ia bekerja bersama Letjen Luhut Panjaitan (sekarang Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan), Letjen Sintong Pandjaitan, dan PUSLATPUR bersama Kolonel AD Sikki (terakhir Pangdam Brawijaya) di bawah langsung Jenderal Wiranto (KSAD waktu itu, terakhir Panglima TNI).

Latar belakang keluarga TNI Angkatan Udara ini menjadi salah satu faktor yang memupuk minatnya pada radar dan pesawat nirawak. Pada umur empat tahun, Josh sudah diajak ke kantor ayahnya yang saat itu menjadi anggota Pasukan Gerak Tjepat TNI AU. Ia berkeliling markas militer, melihat ragam teknologi dan jatuh cinta pada radar.

Hingga saat ini ia juga menjadi Head Division Center for Remote Sensing (CRS) di Institute of Technology Bandung, Adjunct Professor di University of Indonesia, Visiting Professor di University of Udayana, Visiting Professor di Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA) atau Badan Ruang Angkasa Jepang, serta dosen tamu di beberapa Universitas di Malaysia, Korea dll dan Universitas-universitas di tanah air.

Ia beristrikan Innes Indreswari Soekanto (seorang dosen di Institut Teknologi Bandung) dan mereka memiliki seorang anak, yaitu Johannes ‘MD’ Pandhito Panji Herdento. Pada saat Josaphat Tetuko Sri Sumantyo (biasa disapa dengan Josh) dan istrinya belajar bersama di Chiba University, mereka mendirikan yayasan bernama Pandhito Panji Foundation (PPF) guna memajukan dunia penelitian, pendidikan dan seni rupa di Indonesia. Yayasan ini terdiri dari Pusat Penelitian Remote Sensing (RSRC), Pusat Penelitian Pendidikan (ERC) dan Pusat Penelitian Seni Rupa (ARC). Hasil penelitian dari ketiga pusat penelitian tersebut telah banyak disebarluaskan ke masyarakat Indonesia.

Josaphat Laboratory bekerja sama dengan Device Corporation untuk mengembangkan sistem kalibrasi radar untuk menguji sistem radar aperture (SAR) sintetis, termasuk uji perangkat keras dan pemrosesan sinyal citra tanah. Sistem ini bisa bergerak horizontal dengan presisi hingga 0.1mm. Teknologi saat ini yang dimiliki oleh Google Map sendiri masih melenceng 500 meter.

 

“Saya senang menatap mata orang ketika berbicara,” katanya. Mungkin seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Dengan menatap mata, kepribadian dan isi hati seseorang bisa diketahui. “Hal yang begitu menyedihkan ketika masih mendapati mata pemuda yang terlihat lesu, tatapannya kosong, seakan banyak masalah yang mesti dipikirkannya. Sempatkah mereka berpikir untuk dunia,” ujarnya.

Khususnya hasil karya mereka di bidang remote sensing telah dinikmati oleh kalangan Universitas, Lembaga Penelitian, Pemerintah Daerah hingga militer di Indonesia dan luar negeri untuk monitoring lingkungan dan bencana. Pusat penelitian ini telah memberikan beasiswa dari tingkat SD hingga S2 di berbagai sekolah dan perguruan tinggi Indonesia. Sedangkan karya seni keluarga mereka lewat Innes Sculpture Studio banyak dapat dinikmati di berbagai kota dalam dan luar negeri, serta dikoleksi oleh berbagai orang di seluruh dunia.


Source:

Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo